Beranda | Artikel
Mengenal Hidup dan Kebahagiaan
Senin, 18 Mei 2020

Bismillah.

Manusia yang hidup di alam dunia tidak bisa lepas dari kerugian dan kesengsaraan kecuali dengan bekal keimanan. Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (al-’Ashr : 1-3)

Kebahagiaan akan bisa ditemukan kaum beriman di dalam iman dan dzikir kepada Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan hati mereka tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (ar-Ra’d : 28)

Orang-orang beriman beribadah kepada Allah dan meninggalkan sesembahan selain-Nya; apa pun bentuknya. Inilah jalan yang akan mengantarkan dirinya meraih keamanan dan hidayah. Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik); mereka itulah orang-orang yang diberi keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk.” (al-An’am : 82)

Kebahagiaan yang dicapai oleh kaum beriman adalah kebahagiaan yang dibangun di atas amal salih dan ketaatan. Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan beriman, benar-benar Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan benar-benar Kami akan berikan kepada mereka balasan yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka amalkan.” (an-Nahl : 97)

Seperti yang diungkapkan oleh Hasan al-Bashri rahimahullah, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghiasi penampilan. Akan tetapi iman adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan-amalan.”

Para ulama kita pun telah menjelaskan bahwa hakikat islam adalah berserah diri kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Sebagaimana mereka juga menerangkan bahwa iman mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal perbuatan dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan menjadi berkurang akibat melakukan kemaksiatan.

Kebahagiaan hidup di alam dunia ini hanya bisa didapatkan dengan mentauhidkan Allah. Karena tauhid inilah tujuan penciptaan manusia di alam semesta. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56). Para ulama salaf menjelaskan bahwa beribadah kepada Allah yang dimaksud dalam ayat ini adalah dengan mentauhidkan-Nya.

Perintah untuk menghamba kepada Allah semata ini pun ditujukan kepada segenap manusia yang telah Allah ciptakan dan Allah berikan rezeki kepada mereka. Allah berfirman (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (al-Baqarah : 21)

Hanya Allah yang berhak mendapatkan ibadah dan penghambaan dari makhluk-Nya. Ada pun selain Allah tidak bisa menciptakan apa-apa sehingga tidak layak untuk disembah. Selain Allah tidak menguasai walaupun setipis kulit ari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas segenap hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah misi kehidupan dan akar keberhasilan. Inilah pedoman hidup dan keimanan yang akan menuntun manusia menggapai keselamatan dan kebahagiaan. Sebab tanpa tauhid dan keimanan maka amal-amal kebaikan akan lenyap dan sia-sia di hari kemudian. Allah berfirman (yang artinya), “Dan seandainya mereka berbuat syirik pasti akan lenyap semua amal yang dahulu pernah mereka kerjakan.” (al-An’am : 88)

Dari sini kita mengetahui bahwa kehidupan dan kebahagiaan seorang insan adalah dalam penghambaan kepada Allah dan memurnikan amal untuk-Nya. Inilah yang diperintahkan kepada umat manusia sejak dahulu kala. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya dengan hanif, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah : 5)

Inilah agama Islam. Agama yang Allah ridhai. Allah berfirman (yang artinya), “Dan barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya dan kelak di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran : 85)

Islam tidak bisa bersatu dengan penghambaan kepada selain Allah. Islam berlepas diri dari segala bentuk syirik dan pemberhalaan. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Dengan demikian orang yang paling bahagia di dunia ini adalah mereka yang mengabdi kepada Allah semata dan membebaskan diri dari penghambaan kepada selain-Nya. Mereka itulah orang-orang yang lulus dari cobaan dan ujian. Allah berfirman (yang artinya), “[Allah] Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (al-Mulk : 2)   

Oleh sebab itu Malik bin Dinar rahimahullah mengatakan, “Telah keluar para penduduk dunia dalam keadaan mereka belum menikmati sesuatu yang paling baik di dalamnya, yaitu mengenal Allah ‘azza wa jalla.” Orang yang benar-benar mengenal Allah tentu akan menghamba kepada-Nya dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Karena tiada yang menciptakan alam kecuali Allah maka tiada yang berhak disembah selain Dia; Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.

Inilah makna kebahagiaan dan kelezatan iman. Yang telah disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Pasti akan merasakan lezatnya iman; orang yang ridha Allah sebagai Rabb, islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim)

Kebahagiaan yang melebihi kesenangan dengan harta dan berbagai perhiasan dunia. Kebahagiaan yang bersemayam di dalam hati kaum beriman. Kebahagiaan yang dirasakan mereka yang bertawakal kepada Allah semata. Kebahagiaan yang diperoleh dengan takut dan harap kepada-Nya, mencintai-Nya dan berdoa kepada-Nya.

Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk meraih kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhirat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

Yogyakarta, 26 Ramadhan 1441 H


Artikel asli: https://www.al-mubarok.com/mengenal-hidup-dan-kebahagiaan/